Senin, 11 November 2013

BAB I
PENDAHULUAN
2.1 Latar Belakang
Hamil dan bersalin merupakan hal yang tak lazim, karena hal tersebut berguna untuk tetap meneruskan keturunannya. Setiap manusia pasti menginginkan keturunan yang sehat dan baik. Untuk mendapatkan keturunan yang baik maka
2.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang tersebut, maka timbulah beberapa rumusan masalah. diantaranya:
1.      Apakah definisi letak lintang?
2.      Bagaimanakah menangani persalinan dengan letak bayi yang melintang?

2.3    Tujuan Penelitian
Tujuan dilakukan penelitian ini adalah :
1.      Mengetahui definisi dari letak lintang.
2.      Mengetahui bagaimana menangani persalinan dengan letak bayi melintang.








BAB II
LATAR BELAKANG
2.1  Definisi
Letak lintang (Trasverse Lie ) adalah suatu keadaan dimana janin melintang di dalam uterus dengan kepala pada satu sisi yang satu sedangkan bokong berada pada sisi yang lain. Pada umumnya bokong berada sedikit lebih tinggi daripada kepala janin, sedangkan bahu berada pada PAP. Grenhi menyebutkan angka kejadiannya 0.3 % dan Holland 0,5-0,6 % dari kehamilan (Hanifa,1992).
Pada letak lintang tubuh bayi memanjang tubuh kira-kira tegak lurus dengan sumbu memanjang tubuh ibu. Bila sumbu memanjang tersebut membentuk sudut lancip  adalah letak lintang obliq (Cuningham,1995). Pada letak lintang sumbu anak tegak lurus atau hampir tegak lurus dengan sumbu panjang ibu.
Terdapat 2 jenis letak lintang :
1.      Menurut letak kepala terbagi atas :
Ø  Letak lintang I : kepala di kiri.
Ø  Letak lintang II : kepala di kanan.

2.      Menurut posisi punggung terdiri atas :
Ø  Dorso anterior (di depan).
Ø  Dorso posterior (di belakang).
Ø  Dorso superior (di atas).
Ø  Dorso inferior (di bawah).
Frekuensi letak lintang dalam literatur disebutkan sekitar 0,5%-2%. Sedangkan di Indonesia sekitar 0,5%. Letak lintang lebih banyak pada multipara daripada primipara, karena yang menjadikan letak lintang pada umumnya hampir sama dengan kelainan yang menyebabkan presentasi bokong . Namun harus dikemukakan satu faktor yang terpenting , yaitu jika ruang rahim memberi kesempatan bagi janin untuk bergerak lebih leluasa. Ini mungkin, jika dinding uterus dan dinding perut ibu sudah begitu lembek, misalnya pada wanita grandemultipara, atau malah pada panggul sempit.
2.2  Etiologi
Penyebab dari letak lintang sering merupakan kombinasi dari berbagai faktor, Penyebab utama Letak Lintang adalah :
1.      Relaksasi berlebihan dinding abdomen akibat multiparitas yang tinggi Relaksasi dinding abdomen pada perut gantung menyebabkan uterus jatuh ke depan, sehingga menimbulkan defleksi sumbu panjang bayi menjauhi sumbu jalan lahir, yang menyebabkan terjadinya posisi oblik atau melintang.
2.      Janin prematur
3.      Plasenta previa
4.      Uterus abnormal
5.      Janin sudah bergerak pada hidramnion, multiparitas, anak kecil, atau sudah mati, Cairan amnion berlebih
6.      Panggul sempit
7.      Wanita dengan paritas tinggi mempunyai kemungkinan 10x lebih besar dari nullipara. Relaksasi dinding abdomen pada perut gantung menyebabkan uterus jatuh ke depan, sehingga menimbulkan defleksi sumbu panjang bayi menjauhi sumbu jalan lahir, yang menyebabkan terjadinya posisi oblik / melintang.
8.      Plasenta previa dan panggul sempit menyebabkan keadaan serupa.
9.      Tumor didaerah panggul
10.  Bayi berukuran kecil
11.  Polihidramion.

2.3  Diagnosa
Bayi dengan letak melintang dapat di diagnosa dengan cara sebagai berikut:
1.      Inspeksi
Perut membuncit ke samping
2.      Palpasi
Ø  Fundus uteri lebih rendah dari seharusnya tua kehamilan
Ø  Fundus uteri kosong dan bagian bawah kosong, kecuali kalau bahu sudah masuk ke dalam pintu atas panggul
Ø  Kepala (ballotement) teraba di kanan atau di kiri

3.      Auskultasi
Denyut jantung janin setinggi pusat kanan atau kiri.
4.      Pemeriksaan dalam (vaginal toucher)
Ø  Teraba tulang iga, skapula, dan kalau tangan menumbung teraba tangan. Untuk menentukan tangan kanan atau kiri lakukan dengan cara bersalaman.
Ø  Teraba bahu dan ketiak yang bisa menutup ke kanan atau ke kiri. Bila kepala terletak di kiri, ketiak menutup ke kiri.
Ø  Letak punggung ditentukan dengan adanya skapula, letak dada dengan klavikula.
Ø  Pemeriksaan dalam agak sukar dilakukan bila pembukaan kecil dan ketuban intak, namun pada letak lintang biasanya ketuban cepat pecah.
2.4 Prognosis
Letak lintang merupakan letak yang tidak mungkin lahir spontan dan berbahaya bagi ibu dan bayi. diantara bahaya tersebut adalah sebagai berikut:
1.      Bagi ibu
Bahaya yang mengancam adalah ruptura uteri baik spontan atau sewaktu versi dan ekstraksi. Pada partus lama, ketuban pecah dini dengan mudah dapat mengakibatkan terjadinya infeksi.
2.      Bagi bayi
Angka kematian tinggi sekitar 25-40% yang dapat disebabkan oleh prolapsus funikuli, trauma partus, hipoksia karena kontraksi uterus terus-menerus. Prognosa bayi sangat tergantung pada saat pecahnya ketuban, maka kita harus berusaha supaya ketuban selama mungkin tetap utuh misalnya;
Ø  Melarang pasien mengejan
Ø  Pasien dengan bayi yang melintang tidak dibenarkan berjalan-jalan
Ø  Tidak diberi obat his
Ø  Toucher harus hati-hati jangan sampai memecahkan ketuban. Atau lebih baik apabila tidak dilakukan toucher
Setelah ketuban pecah bahayanya bertambah karena;
Ø  Dapat terjadi letak lintang kasep kalau pembukaan sudah lengkap
Ø  Bayi dapat mengalami asphyxia karena peredaran darah placenta berkurang
Ø  Tali pusat dapat menumbung
Ø  Bahaya infeksi bertambah
   2.5 Penatalaksanaan
 1. Pada kehamilan
Pada primigravida umur kehamilan kurang dari 28 minggu dianjurkan posisi lutut dada, jika lebih dari 28 minggu dilakukan versi luar, kalau gagal dianjurkan posisi lutut dada sampai persalinan. Pada multigravida umur kehamilan kurang dari 32 minggu posisi lutut dada, jika lebih dari 32 minggu dilakukan versi luar, kalau gagal posisi lutut dada sampai persalinan.
2. Pada persalinan
Pada letak lintang ketuban masih ada dan pembukaan kurang dari 4 cm, dicoba versi luar. Jika pembukaan lebih dari 4 cm pada primigravida dengan janin hidup dilakukan sectio caesaria, jika janin mati, tunggu pembukaan lengkap, kemudian dilakukan embriotomi. Pada multigravida dengan janin hidup dan riwayat obstetri baik dilakukan versi ekstraksi, jika riwayat obsterti jelek dilakukan SC. Pada letak lintang kasep janin hidup dilakukan SC, jika janin mati dilakukan embriotomi. Secara umum, dimulainya persalinan aktif pada wanita dengan letak lintang sudah merupakan indikasi seksio sesarea. Sebelum persalinan/pada awal persalinan, dengan ketuban yang masih utuh, upaya versi luar layak dicoba. Karena baik kaki maupun kepala bayi tidak menempati Segmen Bawah Rahim (SBR), insisi melintang rendah pada uterus mungkin akan menyulitkan ekstraksi bayi. Umumnya insisi vertical lebih disukai.
Versi luar pada letak lintang hanya terdiri 2 tahap yaitu :
1.      Tahap rotasi
2.      Tahap fiksasi
Versi luar adalah upaya yang dilakukan dari luar untuk dapat mengubah kedudukan janin menjadi kedudukan lebih menguntungkan dalam persalinan pervaginam. Berdasarkan ketetapan tersebut dikenal bentuk versi luar :
a.       Versi Sefalik : melakukan perubahan kedudukan janin menjadi letak kepala
b.      Versi podalik : perubahan kedudukan janin menjadi letak bokong (sungsang).
Untuk dapat melaksanakan versi luar perlu diperhatikan beberapa pertimbangan berikut ini:
1.      Kontraindikasi versi luar
2.      Ketuban sudah pecah.
3.      Penderita mempunyai riwayat hipertensi
4.      Rahim pernah mengalami pembedahan : seksio sesaria, pengeluaran mioma uteri.
5.      Penderita pernah mengalami perdarahan selama hamil.
6.      Pernah mengalami tindakan operasi pervaginam.
7.      Terdapat faktor resiko tinggi kehamilan: kasus infertilitas, sering mengalami keguguran, persalinan prematuritas atau kelahiran mati, tinggi badan kurang dari 150cm, mempunyai deformitas pada tulang panggul/ belakang.
8.      Pada kehamilan kembar.
Syarat versi luar dapat berhasil dengan baik :
a.       Dilakukan pada usia kehamilan 34-36 minggu
b.      Pada inpartu dilakukan sebelum pembukaan 4 cm
c.       Bagian terendah belum masuk atau masih dapat dikeluarkan dari PAP
d.      Bayi dapat dilahirkan pervaginam
e.       Ketuban masih positif utuh
Jika ketuban pecah, tetapi tidak ada prolapsus funikuli, maka bergantung kepada tekanan, dapat ditunggu sampai pembukaan lengkap kemudian dilakukan versi ekstraksi atau mengakhiri persalinan dengan seksio sesarea. Dalam hal ini persalinan dapat diawasi untuk beberapa waktu guna mengetahui apakah pembukaan berlangsung dengan lancar atau tidak.
Versi ekstraksi dapat dilakukan pula pada kehamilan kembar apabila setelah bayi pertama lahir, ditemukan bayi kedua berada dalam letak lintang. Pada letak lintang kasep, versi ekstraksi akan mengakibatkan ruptur uteri, sehingga bila janin masih hidup, hendaknya dilakukan seksio sesarea dengan segera, sedangkan pada janin yang sudah mati dilahirkan pervaginam dengan dekapitasi.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar