BAB I
PENDAHULUAN
2.1 Latar Belakang
Hamil
dan bersalin merupakan hal yang tak lazim, karena hal tersebut berguna untuk
tetap meneruskan keturunannya. Setiap manusia pasti menginginkan keturunan yang
sehat dan baik. Untuk mendapatkan keturunan yang baik maka
2.2 Rumusan Masalah
Dari
latar belakang tersebut, maka timbulah beberapa rumusan masalah. diantaranya:
1. Apakah
definisi letak lintang?
2. Bagaimanakah
menangani persalinan dengan letak bayi yang melintang?
2.3 Tujuan Penelitian
Tujuan
dilakukan penelitian ini adalah :
1. Mengetahui
definisi dari letak lintang.
2. Mengetahui
bagaimana menangani persalinan dengan letak bayi melintang.
BAB
II
LATAR
BELAKANG
2.1 Definisi
Letak
lintang (Trasverse Lie ) adalah suatu keadaan dimana janin melintang di dalam
uterus dengan kepala pada satu sisi yang satu sedangkan bokong berada pada sisi
yang lain. Pada umumnya bokong berada sedikit lebih tinggi daripada kepala
janin, sedangkan bahu berada pada PAP. Grenhi menyebutkan angka kejadiannya 0.3
% dan Holland 0,5-0,6 % dari kehamilan (Hanifa,1992).
Pada
letak lintang tubuh bayi memanjang tubuh kira-kira tegak lurus dengan sumbu
memanjang tubuh ibu. Bila sumbu memanjang tersebut membentuk sudut lancip adalah letak lintang obliq (Cuningham,1995).
Pada letak lintang sumbu anak tegak lurus atau hampir tegak lurus dengan sumbu
panjang ibu.
Terdapat
2 jenis letak lintang :
1. Menurut
letak kepala terbagi atas :
Ø Letak
lintang I : kepala di kiri.
Ø Letak
lintang II : kepala di kanan.
2. Menurut
posisi punggung terdiri atas :
Ø Dorso
anterior (di depan).
Ø Dorso
posterior (di belakang).
Ø Dorso
superior (di atas).
Ø Dorso
inferior (di bawah).
Frekuensi
letak lintang dalam literatur disebutkan sekitar 0,5%-2%. Sedangkan di
Indonesia sekitar 0,5%. Letak lintang lebih banyak pada multipara daripada
primipara, karena yang menjadikan letak lintang pada umumnya hampir sama dengan
kelainan yang menyebabkan presentasi bokong . Namun harus dikemukakan satu
faktor yang terpenting , yaitu jika ruang rahim memberi kesempatan bagi janin
untuk bergerak lebih leluasa. Ini mungkin, jika dinding uterus dan dinding
perut ibu sudah begitu lembek, misalnya pada wanita grandemultipara, atau malah
pada panggul sempit.
2.2 Etiologi
Penyebab
dari letak lintang sering merupakan kombinasi dari berbagai faktor, Penyebab
utama Letak Lintang adalah :
1. Relaksasi
berlebihan dinding abdomen akibat multiparitas yang tinggi Relaksasi dinding
abdomen pada perut gantung menyebabkan uterus jatuh ke depan, sehingga
menimbulkan defleksi sumbu panjang bayi menjauhi sumbu jalan lahir, yang
menyebabkan terjadinya posisi oblik atau melintang.
2. Janin
prematur
3. Plasenta
previa
4. Uterus
abnormal
5. Janin
sudah bergerak pada hidramnion, multiparitas, anak kecil, atau sudah mati,
Cairan amnion berlebih
6. Panggul
sempit
7. Wanita
dengan paritas tinggi mempunyai kemungkinan 10x lebih besar dari nullipara.
Relaksasi dinding abdomen pada perut gantung menyebabkan uterus jatuh ke depan,
sehingga menimbulkan defleksi sumbu panjang bayi menjauhi sumbu jalan lahir,
yang menyebabkan terjadinya posisi oblik / melintang.
8. Plasenta
previa dan panggul sempit menyebabkan keadaan serupa.
9. Tumor
didaerah panggul
10. Bayi
berukuran kecil
11. Polihidramion.
2.3 Diagnosa
Bayi
dengan letak melintang dapat di diagnosa dengan cara sebagai berikut:
1. Inspeksi
Perut
membuncit ke samping
2. Palpasi
Ø Fundus
uteri lebih rendah dari seharusnya tua kehamilan
Ø Fundus
uteri kosong dan bagian bawah kosong, kecuali kalau bahu sudah masuk ke dalam
pintu atas panggul
Ø Kepala
(ballotement) teraba di kanan atau di kiri
3. Auskultasi
Denyut
jantung janin setinggi pusat kanan atau kiri.
4. Pemeriksaan
dalam (vaginal toucher)
Ø Teraba
tulang iga, skapula, dan kalau tangan menumbung teraba tangan. Untuk menentukan
tangan kanan atau kiri lakukan dengan cara bersalaman.
Ø Teraba
bahu dan ketiak yang bisa menutup ke kanan atau ke kiri. Bila kepala terletak
di kiri, ketiak menutup ke kiri.
Ø Letak
punggung ditentukan dengan adanya skapula, letak dada dengan klavikula.
Ø Pemeriksaan
dalam agak sukar dilakukan bila pembukaan kecil dan ketuban intak, namun pada
letak lintang biasanya ketuban cepat pecah.
2.4 Prognosis
Letak
lintang merupakan letak yang tidak mungkin lahir spontan dan berbahaya bagi ibu
dan bayi. diantara bahaya tersebut adalah sebagai berikut:
1. Bagi
ibu
Bahaya
yang mengancam adalah ruptura uteri baik spontan atau sewaktu versi dan
ekstraksi. Pada partus lama, ketuban pecah dini dengan mudah dapat
mengakibatkan terjadinya infeksi.
2. Bagi
bayi
Angka
kematian tinggi sekitar 25-40% yang dapat disebabkan oleh prolapsus funikuli,
trauma partus, hipoksia karena kontraksi uterus terus-menerus. Prognosa bayi
sangat tergantung pada saat pecahnya ketuban, maka kita harus berusaha supaya
ketuban selama mungkin tetap utuh misalnya;
Ø Melarang
pasien mengejan
Ø Pasien
dengan bayi yang melintang tidak dibenarkan berjalan-jalan
Ø Tidak
diberi obat his
Ø Toucher
harus hati-hati jangan sampai memecahkan ketuban. Atau lebih baik apabila tidak
dilakukan toucher
Setelah
ketuban pecah bahayanya bertambah karena;
Ø Dapat
terjadi letak lintang kasep kalau pembukaan sudah lengkap
Ø Bayi
dapat mengalami asphyxia karena peredaran darah placenta berkurang
Ø Tali
pusat dapat menumbung
Ø Bahaya
infeksi bertambah
2.5 Penatalaksanaan
1. Pada kehamilan
Pada
primigravida umur kehamilan kurang dari 28 minggu dianjurkan posisi lutut dada,
jika lebih dari 28 minggu dilakukan versi luar, kalau gagal dianjurkan posisi
lutut dada sampai persalinan. Pada multigravida umur kehamilan kurang dari 32
minggu posisi lutut dada, jika lebih dari 32 minggu dilakukan versi luar, kalau
gagal posisi lutut dada sampai persalinan.
2.
Pada persalinan
Pada
letak lintang ketuban masih ada dan pembukaan kurang dari 4 cm, dicoba versi
luar. Jika pembukaan lebih dari 4 cm pada primigravida dengan janin hidup
dilakukan sectio caesaria, jika janin mati, tunggu pembukaan lengkap, kemudian
dilakukan embriotomi. Pada multigravida dengan janin hidup dan riwayat obstetri
baik dilakukan versi ekstraksi, jika riwayat obsterti jelek dilakukan SC. Pada
letak lintang kasep janin hidup dilakukan SC, jika janin mati dilakukan
embriotomi. Secara umum, dimulainya persalinan aktif pada wanita dengan letak
lintang sudah merupakan indikasi seksio sesarea. Sebelum persalinan/pada awal
persalinan, dengan ketuban yang masih utuh, upaya versi luar layak dicoba.
Karena baik kaki maupun kepala bayi tidak menempati Segmen Bawah Rahim (SBR),
insisi melintang rendah pada uterus mungkin akan menyulitkan ekstraksi bayi.
Umumnya insisi vertical lebih disukai.
Versi
luar pada letak lintang hanya terdiri 2 tahap yaitu :
1. Tahap
rotasi
2. Tahap
fiksasi
Versi
luar adalah upaya yang dilakukan dari luar untuk dapat mengubah kedudukan janin
menjadi kedudukan lebih menguntungkan dalam persalinan pervaginam. Berdasarkan
ketetapan tersebut dikenal bentuk versi luar :
a. Versi
Sefalik : melakukan perubahan kedudukan janin menjadi letak kepala
b. Versi
podalik : perubahan kedudukan janin menjadi letak bokong (sungsang).
Untuk
dapat melaksanakan versi luar perlu diperhatikan beberapa pertimbangan berikut
ini:
1. Kontraindikasi
versi luar
2. Ketuban
sudah pecah.
3. Penderita
mempunyai riwayat hipertensi
4. Rahim
pernah mengalami pembedahan : seksio sesaria, pengeluaran mioma uteri.
5. Penderita
pernah mengalami perdarahan selama hamil.
6. Pernah
mengalami tindakan operasi pervaginam.
7. Terdapat
faktor resiko tinggi kehamilan: kasus infertilitas, sering mengalami keguguran,
persalinan prematuritas atau kelahiran mati, tinggi badan kurang dari 150cm,
mempunyai deformitas pada tulang panggul/ belakang.
8. Pada
kehamilan kembar.
Syarat
versi luar dapat berhasil dengan baik :
a. Dilakukan
pada usia kehamilan 34-36 minggu
b. Pada
inpartu dilakukan sebelum pembukaan 4 cm
c. Bagian
terendah belum masuk atau masih dapat dikeluarkan dari PAP
d. Bayi
dapat dilahirkan pervaginam
e. Ketuban
masih positif utuh
Jika
ketuban pecah, tetapi tidak ada prolapsus funikuli, maka bergantung kepada
tekanan, dapat ditunggu sampai pembukaan lengkap kemudian dilakukan versi
ekstraksi atau mengakhiri persalinan dengan seksio sesarea. Dalam hal ini
persalinan dapat diawasi untuk beberapa waktu guna mengetahui apakah pembukaan
berlangsung dengan lancar atau tidak.
Versi
ekstraksi dapat dilakukan pula pada kehamilan kembar apabila setelah bayi
pertama lahir, ditemukan bayi kedua berada dalam letak lintang. Pada letak
lintang kasep, versi ekstraksi akan mengakibatkan ruptur uteri, sehingga bila
janin masih hidup, hendaknya dilakukan seksio sesarea dengan segera, sedangkan
pada janin yang sudah mati dilahirkan pervaginam dengan dekapitasi.